Bakso dan Kebhinekaan


Siapa yang tidak tahu dengan bakso? Siapa yang tidak merasa ketagihan ketika memakan bakso? Tak ada satupun orang yang bisa melupakan bakso. Dari anak kecil, hingga orang dewasa membuat bakso yang sangat terkenal pada lidah kalangan masyarakat. Dari orang kaya, sampai orang tak punya membuat bakso menjadi primadona. 

Bicara tentang bakso, tak ada yang bisa menyangkal dengan keberadaan baso, tahu, siomay, dan mie sebagai bahan baku. Pasti enak. Tak usah membayangkan, pasti ketagihan dan ingin mencoba.

Pasti anda bertanya apa hubungan bakso dengan pluralisme dan kebhinekaan, bukan? Tak usah terlalu dipikirkan, karena saya akan menjelaskan. Ketidakluputan macam-macam bahan yang ada dalam makanan super duper enak tersebut ( karena saya salah satu penggemar berat makanan tersebut ) telah emnerangkan pada saya tentang masalah pluiralisme dan kebhinekaan dan itulah alasan pertama saya memilih bakso sebagai bahan utama saya membuat essay ini.

Bakso dan Pluralisme

Pluralisme berarti perbedaan. Dan seperti yang kita tahu bahwa perbedaan itu indah. Dan mengapa saya sangkut pautkan dalam contoh bakso? Speeri yang kita ketahui, komposisi bakso terdiri dari macam-macam bahan. Dari mulai bahan yang paling sederhana ( seperti bawang merah dan bawang putih ) sampai bahan yang sangat sulit untuk di dapatkan ( baca: tentunya dengan uang ) seperti daging. 

Dari perbedaan bahan-bahan tersebut, bakso bisa menjadi primadona makanan dan menjadi tren sampai saat ini dikalangan masyarakat. Dari dalam maupun luar. Dan bayangkan, bila Indonesia adalah semangkuk bakso dengan segala perbedaannya. Bukan hanya menjadi buah bibir, tapi akan menjadi pujaan. Tentunya dengan segala kenikmatan dan aroma yang menyengat nikmat.

Bakso dan Kebhinekaan

Bila bakso kita ibaratkan menjadi Negara Indonesia, bagaimana bila tahu, baso, siomay, kuah, dan lain sebagainya ( termasuk mangkok dan seperangkat garpu dan sendok ) menjadi masyarakat Indonesia. Bila saja Indonesia lebih mengerti dan paham bila bersatu lebih membuat enak segala sesuatunya. Bisa kita rasakan kekomplekkan rasa bakso. Dan bayangkan Indonesia adalah semangkuk bakso. Lengkap dengan sambal dan saos atau kecap sebagai produk tambahannya. Pastilah Indonesia bukan hanya menjadi buah bibir, tapi menjadi pujaan tiap-tiap bangsa. 

Pada dasarnya Indonesia bisa menjadi ssesuatu yang indah dan berfungsi lebih untuk orang lain. Bukan hanya sedap dalam aroma atau nama yang dibincangkan orang banyak, tapi juga bisa menjadi primadona yang menarik. Bagaimana?

***

Bakso dan kebhinekaan adalah sebuah sentuhan manis untuk Indonesia. Bakso adlah makanan pemersatu bangsa. Dari mulai penganut agama paling mayoritas, Islam, sampai yang paling minortitas, Konghucu. 

Bakso adalah pemersatu bangsa. Hanya mermodal pluralime dan kebhinekaan, bakso sudah menunjukkan bagaimana dia bekerja dan menjadikan penikmatnya menjadi suka dan senang. Mungkin, bila boleh berlebihan, bagaimana bila ada komunitas bakso sendiri di Indonesia dan dijadikannnya sebagai obyek wisata. Setuju?

2 komentar:

hoedz mengatakan...

jadi inti nya Bakso itu enak ... gitu aja kok repot *Gus Dur mode on*

Panggil Aku Orang Gila! mengatakan...

boleh... haha :D

Posting Komentar