Baik Tidak Selamanya Menang

Tulisan ini adalah tulisan sadar saya. Berdasarkan presepsi saya dan tidak ada campur tangan, campur otak, ataupun campur tulisan dengan orang lain. Saya masih belajar menulis. :)



21 Maret 2012


Menjadi orang muslim yang baik, saya kira adalah impian semua umat islam di dunia. Dekat dengan Sang Pencipta, santun, bijaksana, dan selalu berpikir bahwa dunia adalah tempat sementara, adalah sedikit dari pemikiran tauladan seorang muslim yang baik. Prinsip-prinsip yang sudah dijunjung oleh pendahulu (Nabi Muhammad) seperti aturan paten yang memang tidak bisa di rubah. Bahwa dasarnya manusia di dunia ini hanya untuk berbuat baik. Mendengarkan ceramah-ceramah agama yang tersiar setiap pagi di hampir setiap televisi atau setiap sore di hampir setiap gelombang frekwensi (radio), selalu mempunyai isi dan tujuan yang sama: menjadikan manusia selalu ingat Tuhan, baik terhadap sesama, dan selalu sabar setiap mendapat cobaan.


Benar. Ceramah-ceramah selalu “menyuruh” orang untuk selalu dekat dengan Tuhan. Memikirkan akhirat adalah hal yang utama dan selalu digembor-gemborkan. Saya pun suka mendengarkan ceramah. Saya muslim (sekalipun jarang sholat). Saya kagum dengan sosok Aa. Gym, KH. Ma'ruif Islamuddin, Alm. Zainuddin MZ, dan sebagainya. Saya pun suka mengoleksi kaset-kaset beliau. Bukan hanya sebagai hiburan karena segarnya ceramah mereka, tapi terkadang saya praktekkan dalam kehidupan nyata.


Tahun sudah berganti. Masa Nabi sekarang menjadi masa demokrasi dan penuh dengan sensasi. Tidak ada panutan yang masih bisa dipercaya secara penuh dalam menghadapi hidup seperti Nabi. Kyai semakin menjadi, pemerintah semakin meninggi, dan hidup mempunyai frekwensi tegangan yang semakin meninggi setiap hari. Desakkan-desakkan kehidupan adalah contoh klise untuk selalu berbuat 'yang penting untung' dalam keseharian. Bila Nabi selalu menggembor-nggemborkan menjadi orang yang santun kepada semua makhluk, berbanding terbalik dengan kehidupan manusia yang membabi buta karena hati. Sebentar, jangan salahkan manusia seutuhnya bila hidup harus dijalani dengan kasar. Bila ada asap, pasti ada api.


Pertama, saya yakin bahwa semua orang pada dasarnya baik dan bijaksana. Mereka rela bernafas dan bekerja keras bukan untuk dirinya sendiri, melainkan orang lain. Mereka mau tersenyum ketika disapa orang lain juga menjadi contoh klise mengapa orang bukan sepenuhnya jahat. Bahkan masih banyak manusia yang masih terenyuh hatinya ketika mendengar cerita orang lain/ temannya meskipun hanya bisa mengucapkan 'sudahlah, semua akan baik-baik saja.' atau 'yang sabar, ya..'. Itu adalah sedikit contoh bahwa manusia adalah manusia. Mempunyai tendensi untuk selalu berbuat baik meski mereka terkesan keras. Bila menengok dengan seksama, kalimat ceramah 'Nabi saja ketika diludahi orang kafir, beliau masih bisa tersenyum' adalah hal yang sangat mungkin terjadi (meskipun kita hanya mendengar dari sejarah, bukan melihat dengan mata telanjang). Sedangkan penerapan hal tersebut di dunia saat ini adalah sesuatu hal yang sulit. Alasan yang pasti adalah kita bukan Nabi yang selalu dibersihkan hatinya oleh Malaikat Jibril. Kita manusia normal yang mempunyai ego tinggi dan terkesan tertekan disetiap masalah. Jujur, saya bukan orang yang penyabar. Saya selalu mengagungkan prinsip saya: ketika saya tidak bersalah, tapi ada seseorang berbicara dengan nada tinggi (menggertak) terhadap saya, saya akan satu oktaf lebih tinggi daripadanya. Prinsip tersebut sudah saya pegang sejak SMA. Saya menjadi pribadi yang keras karena saya trauma menjadi orang yang terlalu lembut. Percaya atau tidak, dulu, ketika saya harus di srempet teman saya sampai terjatuh dan luka, saya hanya bisa bilang 'nggak apa-apa' pada teman saya. Sedangkan teman saya hanya berlalu. Ketika keluarga saya harus dilecehkan orang lain, saya hanya bisa diam tanpa bisa melawan. Dan hal tersebut sangat berbanding terbalik di masa ini.


Tujuan saya satu. Saya ingin dihormati. Saya percaya, ketika orang lain mempunyai batas-batas untuk dihormati sesama, disitu saya juga harus menerapkan hal yang sama. Ada daftar yang orang lain harus hormat kepada aturan saya (atas nama saling menghormati) dan daftar itu tidak bisa diganggu gugat. Saya memang bukan orang terpandang, tapi saya tidak mau dilecehkan dengan sebegitu gampangnya. Prinsip-prinsip yang saya anut, yang sedikit bertentangan dengan sikap Nabi, menurut saya adalah sesuatu hal wajar dijaman ini. Bisa bayangkan, jika kita harus tersenyum saat orang lain meludahi kita (dijaman sekarang)? Bagi saya adalah hal yang bodoh.


Manusia tercipta dengan ego yang berbeda. Menjadi orang baik bukan berarti menjadi orang yang lemah dan mudah diinjak. Tetap baik memang harus dipertahankan, tapi harga diri harus leboh di junjung agar kita tetap menjadi manusia berharga. Bukan hanya dimata kita sendiri, tapi dim mata orang lain. Saya sadar, menjadi manusia berharga saat ini adalah sesuatu hal yang sulit, tapi mau tak mau saya harus mencoba. Mencoba untuk menjadi manusia yang tangguh dalam menghadapi persaingan hidup. Karena baik tidak selamanya menang. :)

1 komentar:

outbound malang mengatakan...

kunjungan gan .,.
Menjaga kepercayaan orang lain lebih penting daripada membangunnya.,.
di tunggu kunjungan balik.na gan.,.

Posting Komentar